Akhirnya Kursi Itu........!

detaktangsel.com - CELOTEH SEKETIKA, Suasana Selasa (8/4) menjelang Rabu (9/4), sungguh menjadi malam penuh penantian. Warga di kawasan perkampungan Rawa Lindung, Pondok Cabe Udik, tidak muda maupun tua, mengharap penuh kecemasan.

Mereka sengaja menanti kehadiran sosok yang dinilai membawa rejeki. Entah, apakah sosok itu utusan Allah atau utusan hantu belau atau setan belang. Konon, kabar yang tersiar, akan hadir sosok yang akan membagikan uang.

Kabar menarik itu otomatis mengundang perhatian khalayak kawasan ini.

"Beb jangan tidur sore, nanti jauh dari rezeki!" seru Bagio Galunggung kepada Beb- panggilan akrab Bebi.
Seruan Bagio Galunggung tidak dimengerti Beb. Beb berlalu begitu saja seruan tersebut. Putra Pendekar Banten kelahiran Malimping itu benar-benar cuek bebek meski Bagio berteriak-teriak memanggilnya.

"Beb........Beb.....Bebi,!"

Ketika memasuki Jalan Kemiri 5, Beb berpapasan dengan Zahri. Dengan nada pelan, tapi jelas, Zahri juga menyapa dengan nada yang sama seperti diungkapkan Bagio.

"Jangan tidur sore ntar dijauhi rezeki," tutur Zahri.

Beb kembali diam dan tidak menjawab pernyataan Zahri. Jebolan pedepokan pencak silat jari-jari maut ini kembali cuek.

"Apa maksud Bagio dan Zahri ngomong begitu ya, jangan tidur sore nanti kehilangan rezeki," guman Beb.

Meski cuek, Beb akhirnya terpengaruh teriak Bagio dan bisikan Zahri. Sebelum sampai rumah, Beb sengaja menemui jiman Werkudoro. Beb minta petunjuk isi pesan Bagio dan Zahri tersebut.

"Mas Jiman tolong terjemahi tafsir dari pesan Bagio dan Zahri tersebut," tutur Beb kepada Jiman.

Ketika mendengar Beb, Jiman malah terbahak-bahak. Tak terasa yang menetes bukan hanya air mata, bahkan air liurnya pun muncrat ke mana-mana.

"Lho kok tertawa sih Mas Jiman?" tanya Beb.

"Maaf, Beb. Aku bukan menertawai dirimu. Aku tertawain kamu kok lugu banget nyikapi teriakan Bagio dan bisikan Zahri," kata Jiman.

"Mereka benar Beb. Mereka beranggapan nanti malam kalangan caleg bagi-bagi uang kepada warga. Kebetulan, Rabu (9/4) besok, pencoblosan. Udah paham ndak Beb!"

Jiman secara detil menggambarkan suasana Selasa malam yang diapresasi warga sebagai Malam Penuh Rezeki. Tak kepalang tanggung, Jiman pun menyebut satu per satu nama utusan setan belang dan hantu belau yang akan membagikan uang itu.

"Oooh, begitu. Aku baru mengerti dan memahami Mas."

"Aku ogah ikut-ikutan meski itu sudah tradisi. Aku ingin dapat rezeki halal tanpa mengadaikan, apalagi menjual hak pilih Mas!" seru Beb.

Di tengah permbicaraan sampai titik klimaks, datang Nuning. Ternyata cewek yang batal dipersunting Lurah Kampung Ngalor ini menguping pembicaraan tersebut. Nuning langsung nyeletuk dan menilai Beb begolah, bodohlah, dan sok idealislah.

"Sikap mu buang ke bak sampah Beb. Hari gini masih menolak uang dari tim sukses caleg," tandas Nuning.

"Ambil saja kalau nanti dikasih. Kalau enggak mau, kasih saya, Beb."

"Aaah, kamu memang sekelas Bagio dan Zahri ya Nung. Tahu enggak kamu, itu tandanya kursi wakil rakyat dibeli.

Lama-kelamaan kursi presiden pun dilelang," sahut Beb dengan nada keras.

Beb pun melontarkan taruhan. Dapat dipastikan caleg yang berkantong tipis, pasti tersingkir dari pertarungan. Sebaliknya caleg berduit akan meraih kursi singgasanah wakil rakyat.

"Ayo bertaruh! Kalau aku kalah, kamu dapat Rp1 juta. Sebaliknya, kamu kalah bayar Rp10 ribu saja. Bagaimana, berani Nung terima tantangan ini!"

Tepat tengah malam, Beb sengaja keluar dan nongkrong di warung indo mie di pangkalan ojek. Isu bagi-bagi duit ternyata mengristal di benak sebagian besar warga. Disebut-sebut nama RT dan RW ambil peran penting.

Mereka telah dibekali puluhan juta rupiah untuk ngebom warga agar suaranya tidak lari. Benar adanya, RT dan RW yang dimaksud keluar dari sarangnya. Masing-masing warga kebagian Rp100 ribu.

"Jangan lupa pilih caleg Abidin King Dog-Dog ya. Ini ada salam dari beliau," tutur RW Kasmaran Jahanam seraya memberi amplop berisi nominal Rp100 ribu.

Upaya serupa juga dilakukan RT Ki Cemong serta penyambung suara caleg lainnya. Tidak mengherangkan sejumlah warga kebagian sampai Rp500 ribu hingga jutaan rupiah dari sejumlah caleg.

Beb hanya garuk-garuk kepala menyaksikan fenomena politik kotor tersebut. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau nasihati pun, percuma. Karena kebanyakan warga mementingkan uang ketimbang demokrasi.

Asumsi Beb mulai mendekati kebenaran ketika penghitungan suara dilakukan, Rabu (9/4) siang. Ternyata hanya caleg yang menebar uang berhasil mendulang suara tinggi. Sementara caleg miskin biar dapat suara, jumlahnya tidak signifikan.

"Setan belang, hantu belau! Demokrasi kok dijual seharga ratusan ribu," kata Beb menggerutu.

Sambil meninggalkan tempat pemungutan suara (TPS), Beb berjalan mencaci-maki caleg dan warga yang terlibat praktik politik uang.

"Rakyat gagal ikuti ujian demokrasi. Mereka hanya sebagai penggembira di pesta demokrasi ini,"ujar Beb pelan.

« November 2017 »
Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30      
Go to top