Kesadaran Masyarakat Masih Rendah, Rapid Test Massal Minim Peminat

Pemkot Cilegon saat menggelar rapid test di Pasar Kranggot, Rabu (10/6). Pemkot Cilegon saat menggelar rapid test di Pasar Kranggot, Rabu (10/6).
detakbanten.com CILEGON - Kesadaran masyarakat untuk memutus penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Kota Cilegon masih rendah. Meski belakangan kasus pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kota Cilegon salah satu pedagang di Pasar Kranggot, Kota Cilegon. 
 
Hal ini terbukti dari masih rendahnya minat pedagang maupun masyarakat dalam mengikuti rapid test massal gratis yang diadakan Pemkot Cilegon yang dibuka sejak pukul 08.00 WIB di Pasar Kranggot, Kecamatan Jombang, Rabu (10/6).
 
Meskipun tidak dipungut biaya, hingga pukul 10.30 WIB, baru sekitar 30 persen pedagang dan masyarakat yang berkunjung ke Pasar Kranggot yang ikut menjalani rapid test.
 
Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Cilegon, Bayu Panatagama, tak menampik minimnya minat pedagang dan masyarakat untuk ikut rapid test gratis yang tersebar di 20 titik di sekitar pasar.
 
“Mungkin mereka menganggap rapid test ini momok yang cukup bahaya ketika dinyatakan terkonfirmasi Covid-19. Padahal ketika seseorang di rapid test dan dinyatakan terkonfirmasi, rekomendasinya adalah istirahat selama 14 hari,” kata Bayu saat ditemui di Pasar Kranggot, Rabu (10/6).
 
Dengan sedikitnya minat pedagang dan masyarakat yang mengikuti rapid test, Bayu khawatir jika pasar menjadi tempat penyebaran virus di Kota Cilegon.
 
“Nah contoh, jika mereka yang di rapid test ini ketahuan ODP (Orang Dalam Pemantauan) dan mereka berkeliaran akan berbahaya juga. Kalau demikian, pasar akan menjadi epidemi dan episentrum yang luar biasa karena akan berdampak penutupan pasar,” ujar Bayu.
 
Bayu menambahkan rapid test ini perlu dilakukan, protapnya adalah ketika ada seseorang yang dinyatakan positif maka kemudian dimana sumbernya. 
 
"Setelah dievaluasi ternyata salah satu yang positif kemarin adalah pedagang disini yaitu pedagang non formal, dia pedagang emprakan, pedagang kopi dan nasi uduk dan tingkat pergerakannya seperti apa. Akhirnya kami mengevaluasi dan terjadilah kegiatan rapid test hari ini,” ungkapnya.
 
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon, Dana Sujaksani mengatakan, rapid test yang digelar di Pasar Kranggot ini dari bantuan dari Provinsi Banten untuk masyarakat di Kota Cilegon yang diberikan secara gratis.
 
“Yang jelas, semua rapid test yang ada di Cilegon saat ini masih diberikan oleh bantuan Provinsi Banten,” katanya.
 
Jika masyarakat di Kota Cilegon untuk mengikuti rapid test banyak peminat, kata Dana, Pemkot Cilegon akan kembali menggelar hal serupa.
 
“Untuk rapid test hari ini disediakan oleh Dinkes Provinsi Banten dengan menggunakan APBN. Sebetulnya, Pemkot Cilegon sudah menyediakan anggaranya. Tapi saya belum tahu pasti berapa total anggaranya. Kemungkinan, ketika nanti rapid test massal di Bonakarta banyak peminatnya, bisa digunakan anggaran recofusing tersebut,” ujarnya.
 
Dibagian lain, Walikota Cilegon Edi Ariadi yang meninjau langsung ke salah satu titik lokasi rapid test mengatakan, alat rapid test yang digunakan merupakan bantuan dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten. Sedangkan dipilihnya Pasar Kranggot karena aktivitas di pasar ini sangat tinggi dimana terjadi kerumunan yang tak bisa dihindarkan. Meski demikian Edi berharap hasil yang didapatkan adalah tidak ada warga yang positif.
 
“Sejak tanggal 1 (Juni-red) sudah mendeklarasikan new normal. Jadi persiapannya harus betul-betul. Artinya cluster-cluster kayak begini yang cukup menimbulkan kerumuman massa harus kita awasi benar-benar. Covid itu ya bisa dimana aja, tapi protokolnya harus diikutin oleh pedagang dibantu oleh aparat,” pungkasnya.  
 
Go to top