Detak Banten - Berita Pemerintahan

Pardjino Kaget Lihat Uang 1 Milyar

Pardjono (69), Ketua RT tempat tinggal Mariam, mengaku kaget dan hanya bisa terdiam saat menyaksikan petugas KPK membuka isi tas travel berisi uang Rp 1 miliar.

Menurutnya, uang Rp 1 miliar itu berbentuk 12 gepokan. "Yang saya lihat, pertama uang Rp 50 ribuan empat gepok, lalu Rp 100 ribuan ada delapan gepok. Lalu dihitung sama orang KPK itu," kata Pardjono.

Woow..Ini Dia Mobil Murah Sejagat

mobilMOBIL murah tak hanya di Indonesia, tapi juga bertebaran di pasar luar negeri. Namun produk-produk tersebut didominasi oleh pabrikan asal Cina.

Makin meningkatnya kelas menengah di negara berkembang termasuk Indonesia, cepat atau lambat rencana membeli mobil masuk dalam daftar. Bukan tak mungkin, nasihat seperti dilansir perencana keuangan Mike Rini agar konsumen memperhatikan efek biaya yang muncul setelah membeli mobil, mereka abaikan.

Parpol Bertanggung Jawab Atas Adanya Koruptor

Politik transaksional merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara dalam era Reformasi ini. Partai politik akhirnya menempatkan kader mereka sebagai Eksekutif, Legislatif dan lembaga-lembaga bentukan mereka. Kritikan terhadap Parpol sebagai bentuk menyadarkan peran dan fungsinya agar lebih transparan dan akuntabel. Pada akhirnya, partai politik sebagai wadah pencetak koruptor, demikian pendapat Direktur Eksekutif Pol Tracking Intitute, Hanta Yuda, terkait maraknya pelaku korupsi dilakukan elit semua partai politik.
 
Untuk itu, agar partai politik menempatkan dirinya menjadi lebih akutanbel dan transparan karena dari situlah para eksekutif, legislatif dicetak serta lembaga hukum seperti KPK dan KPU sebagai penyelenggara pemilu dipilih oleh mereka. Permasalahan korupsi ini sebenarnya menghambat agenda reformasi yang dirumuskan 15 tahun silam. Pasalnya sistem elektoral di Indonesia membutuhkan biaya yang tinggi apalagi bagi mereka yang tidak cukup dikenal. Problem korupsi politik menjadi penghambat perjalanan reformasi kita politik elektorial kita yang berbiaya tinggi terlebih bagi yang tidak mempunyai brending image.
Awal seseorang menjadi koruptor dimana seorang calon harus merogoh saku dalam-dalam untuk dana kampanyenya. Dengan demikian harus mencari cara untuk mengembalikan modal atau memberikan proyek bentuk terimakasih kepada sponsor. Hal ini menjadi indikator politik korupsi karena biaya politik yang mahal shingga harus mencari balik modal atau memberikan proyek bentuk terima kasih kepada sponsor.

Maka tidak urung para kader partai yang menduduki jabatan strategis harus menyetor upeti kepada Parpol. Hal ini menjadikan mereka sebagai 'sapi perahan' Parpol. Terlebih sistem politik kita yang transaksional dan cenderung oligarki. Sehingga perlu adanya komitmen yang dilakukan oleh Parpol karena pada dasarnya segala bentuk kesepakatan dimulai ditingkatan Parpol sebagai penyedia kader. Komitmen itu harus dimulai oleh Parpol segala bentuk agreement politik berawal dari Parpol.

This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
 

Go to top