Polda Sumbar Beberkan Foto Afif Maulana Pegang Pedang

Polda Sumbar Beberkan Foto Afif Maulana Pegang Pedang

detakbanten.com HUKUM -- Afif Maulana ditemukan tewas di bawah Jembatan Kuranji, Padang. LBH Padang menduga, remaja 13 tahun itu meninggal akibat disiksa polisi.

Namun, Polda Sumbar membantah tuduhan tersebut.
Menurut polisi, Afif tewas setelah meloncat ke sungai untuk menghindari patroli mencegah tawuran remaja.

Keterlibatan Afif dalam aksi tawuran turut diperkuat dengan adanya bukti fotonya memegang sebilah senjata tajam berukuran besar.

Dilansir Kumparan, dalam foto yang diberikan Kapolda Sumbar, Irjen Suharyono, terlihat sosok yang disebut sebagai Afif itu mengenakan jaket kuning dengan celana pendek hitam. kumparan sudah diizinkan untuk menggunakan foto tersebut.

Di tangannya, bocah tersebut terlihat menggenggam sebilah pedang dengan panjang hampir 1 meter.

Suharyono sebelumnya menjelaskan, Afif memang merupakan orang yang pertama kali mengajak tawuran.

"Buktinya dia yang mengajak tawuran dengan videonya yang diunggah di HP-nya, membawa pedang panjang di tangannya," kata Suharyono saat dikonfirmasi, Rabu (3/7).

Suharyono menganggap, apa yang diungkapkan LBH Padang selama ini telah memojokkan institusi Polri. Karena yang diungkapkan tidak sesuai dengan fakta.

"Kalau institusi kami diinjak-injak dan dipojokkan, ya siapa yang tidak marah? LBH sok suci. Dia mengatur skenario dan alibi sedemikian rupa. Seolah-olah prediksinya yang paling benar," ungkap peraih Adhi Makayasa 1992 tersebut.

Suharyono menyimpulkan, Afif tewas akibat melompat dari jembatan saat polisi melakukan razia kepada sejumlah remaja yang diduga hendak tawuran.

"Kami yakini, berdasarkan kesaksian dan barang bukti yang kuat (Afif Maulana) melompat ke sungai untuk mengamankan diri, sebagaimana ajakannya ke Adhitya, bukan dianiaya polisi. Itu keyakinan kami," kata Suharyono.

Jenderal kelahiran Temanggung, Desember 1966 ini menegaskan, Afif Maulana juga tidak pernah ditangkap dan dibawa ke Polsek Kuranji. Apalagi disiksa.

Suharyono mengeklaim, hal ini pun terbukti dari hasil visum dan otopsi yang telah dilakukan.

"Untuk kematian sudah kami jelaskan (AM tidak ada dibawa ke Polsek Kuranji, ditangkap pun tidak)" ungkap dia.

Keluarga tak yakin Afif terlibat tawuran. Begitupun dengan kabar tewasnya Afif karena melompat dari atas jembatan. Kematian Afif, dinilai keluarga penuh kejanggalan.
"Kami meminta polisi membuka kasus ini secara terbuka, jujur dan transparan. Kami harapkan keadilan, dan pelaku kekerasan dihukum," kata ayah Afif, Afrinaldi saat ditemui kumparan, Senin (24/6).

"Kami tidak terima kronologi yang disampaikan pihak kepolisian. Karena banyak kejanggalan. Tidak masuk akal bagi kami kalau anak saya itu melompat dan anak saya ikut tawuran," sambungnya.

Afrinaldi mengungkapkan, dari keterangan rekan Afif yang memboncengi, anggota polisi menendang sepeda motor yang dikendarainya hingga terjatuh.

"Kalau seandainya anak saya lompat, itu melompat sebelah kiri jembatan harusnya ditemukan di sebelah kiri jembatan. Ini ditemukan di kolong jembatan, di tengah," ujarnya.

Lalu, lanjut Afrinaldi, apabila jatuh dari ketinggian jembatan tentunya terdapat tulang-tulang yang patah atau mungkin luka di kepala. Namun, kondisi itu tidak ada saat Afif ditemukan.

"Bercak darah tidak ada. Keterangan polisi bilang tulang rusuk yang patah. Polisi bilang penyebab kematian tulang rusuk patah, robek paru-paru," ungkapnya.

 

 

Go to top