Kemiskinan di Banten Meningkat, Tingginya Konsumsi Rokok Jadi Salahsatunya

Kemiskinan di Banten Meningkat, Tingginya Konsumsi Rokok Jadi Salahsatunya

detakbanten.com, TANGSEL-Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten hari ini merilis angka kemiskinan di wilayah perkotaan dan pedesaan yang terjadi tahun 2020.

Kepala BPS Banten Adhi Wiriana mengatakan, kenaikan angka kemiskinan di perkotaan lebih tinggi dibanding di pedesaan, hal ini akibat pengaruh masyarakat di perkotaan yang lebih banyak bekerja di perindustrian dan terkena PHK lantaran adanya pandemi Covid-19.

"Sehingga jadi ada peningkatan penduduk miskin yang cukup besar di kota, naik sekitar 0,82 persen atau naik 67 ribu. Kalau di desa karena sebagian besar bergerak dipertanian, pertanian kan kurang terdampak, otomatis kenaikan penduduk miskin sedikit," kata Adhi dikonfirmasi detakbanten.com melalui aplikasi Whatsapp, Senin, (15/2/2021).

 

Dirinya mengatakan pekerja yang berada di sektor formal mengalami angka penurunan sebesar 7%.

"Dari data kita yang bekerja pada sektor formal tadinya kan 57 persen, arti yang di industri dan di perusahaan dan sebagainya diakhir 2020 Agustus, turun menjadi
50 persen," ungkapnya.

Adhi jelaskan, disisi lain angka pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) atau informal justru mengalami kenaikan dari 40 persen menjadi 48 persen.

"Sektor informal kenapa meningkat, karena mereka kan mudah masuk dan mudah keluar, tadinya yang di PHK dari industri tadi," tuturnya.

Sementara pengaruh paling besar, dikatakan Adhi, disebabkan oleh non komoditi, hal itu karena garis kemiskinan terdapat dua komoditas yang dipantau, yaitu makanan dan non makanan.

"Jadi orang-orang miskin itu kita pantau belanjaannya apa nih, misalnya tadikan di september 2020 itu sekitar 515 ribu, itu ternyata 18 persen, dari 15 ribu itu mereka gunakan untuk beli rokok. Kemudian beras 12 persen, susu bubuk 3 persen," sebutnya.

"Karena mereka di PHK kan nganggur, mungkin juga stres, jadi konsumsi rokok lebih tinggi," Sambung Adhi. (Raf)

Go to top